Awas, Bahaya Rokok Vape Ternyata Lebih Parah dari Rokok Biasa!

Bahaya Vape atau Rokok Elektrik - Belakangan ini memang sedang marak rokok elektrik atau vape. Bahkan, di sejumlah media sosial, banyak sekali dijual berbagai jenis liquid atau cairan yang dapat menghasilkan asap atau uap barenaka rasa. Lantas benarkah rokok vape lebih aman dari rokok kretek atau tradisional?

Banyak alasan kenapa seseorang beralih ke rokok elektrik atau vape. Mereka berdalih dengan vaping adalah cara terbaik untuk mengurangi merokok atau meminimalisir efek buruk yang disebabkan rokok tradisional.

Awas, Bahaya Rokok Vape Ternyata Lebih Parah dari Rokok Biasa

Eits, tapi tunggu dulu, ternyata cara ini sebenarnya tidaklah efektif. Mengapa? Menurut sejumlah kajian, mereka para vapor atau para pengguna vape justru lebih sulit untuk berhenti merokok. Sedangkan kajian lainnya menyebutkan, efek samping pada kesehatan justru lebih buruk daripada mereka yang menghisap rokok tradisional.

Apa Penyebabnya?

Penyebab efek buruk menghisap vape adalah penambahan rasa yang terdapat didalam liquid atau cairan yang digunakan oleh para vapor. Menurut ilmuan, ditemukan rasa yang ada di cairan rokok elektrik bisa berbahaya bagi paru-paru karena memicu peradangan. Bahkan, penggunaan vape dalam jangka pendek dapat menyebabkan kerusakan dalam tubuh.

Riset yang dilakukan oleh Dr Constaninos Glynos asal University of Athens yang kemudian dipublikasikan di American Journal of Physiology-Lung Cellular mencapai kesimpulan setelah melakukan eksperimen itu terhadap tikus.

Sejumlah kelompok tikus yang mendapat paparan berbagai kombinasi kimia sebagai bagian dari uji coba. Tiap grup terekspos hingga 4 kombinasi kimia setiap harinya, dengan tiap sesi berjarak 30 menit. Satu grup mendapat rokok tradisional dan tiga grup lainnya mendapatkan vape.

Dari grup yang mendapatkan vape yang berisi propylene glycol. Grup lainnya mendapatkan kombinasi propylene glycol dan nikotin, sedangkan grup terakhir mendapatkan vape dengan propylene glycol, nikotin dan rasa tembakau. Grup kelima mendapatkan udara normal.

Sejumlah tikus mengalami paparan selama tiga hari dan lainnya hingga 4 pekan karena peneliti ingin melihat efek jangka panjang dan jangka pendeknya. Hasilnya, peneliti menemukan peningkatan tanda peradangan, produksi mucus dan perubahan fungsi paru di 3 kelompok penerima vape hanya dalam waktu 3 hari. Sebaliknya, mereka yang terekspos propylene glycol, zat adiktif tak berwarna di makanan dan minuman olahan, menunjukkan sedikit efek negatif dalam paparan jangka panjang.

“Rokok elektrik diiklankan sebagai sistem pengiriman nikotin yang tidak terlalu berbahaya atau sebagai alat pengurang rokok baru. Penemuan kami mengindikasikan bahwa paparan terhadap asap rokok elektrik bisa memicu respons peradangan dan mempengaruhi mekanisme sistem pernapasan. Di banyak kasus, penambahan rasa pada rokok elektrik memperbesar efek merusak asap vape yang artinya sejumlah komponen rasa di pasaran mungkin tidak aman bahkan bagi penggunaan jangka pendek,” papar Glynos.

Rokok elektrik mengeluarkan asap yang dihasilkan dari cairan kimia yang secara tradisional mengandung propylene glycol, nikotin dan perasa. Dengan kajian yang mengemukakan fakta bahwa vape memicu level stres oksidatif atau kerusakan sel yang sama dengan rokok biasa, penemuan ini mengindikasikan perlunya dilakukan riset terhadap efek vaping terhadap kesehatan jangka panjang.

“Efek merusak yang diamati di paru akibat paparan asap rokok elektrik pada model hewan mengemukakan perlunya investigasi lebih lanjut terhadap keamanan dan bahaya vape yang terus meluas di seluruh dunia,” ujar Glynos.
Source

Comments

> Silahkan tinggalkan komentar Anda
> Untuk sahabat blogger, silahkan blogwalking dengan cara meninggalkan komentar Anda, kami akan segera berkunjung kembali ke blog Anda
> Dilarang berkomentar dengan meninggalkan link hidup (Kami akan hapus)